lovequote

It was a million tiny little things that, when you added them all up, they meant we were supposed to be together… and I knew it  ~^^♥

Advertisements

the silent love

i think true love is silent.

it’s where both the persons don’t say anything to each other…,

but both their hearts are somehow communicating with each other,

and they can feel the love…

Takut Kepada Allah

Berputus asa adalah termasuk dosa besar yang dapat merusak jiwa. Banyak orang yang kehilangan imannya karena putus asa. Oleh karena itu, untuk mengistiqamahkan keimanan, kita perlu memiliki rasa khauf dan raja‘.

Khauf artinya takut kepada Allah, takut siksaan dan takut ancaman-Nya. Sementara raja’ adalah harapan besar untuk mendapatkan kasih sayang dan ampunan-Nya.

Sifat khauf dan raja’   haruslah seimbang. Apabila khauf terlalu kuat sedangkan raja’ kurang, kita akan merasa terlalu banyak dosa dan tidak mampu menjalankan hukum dan aturan Allah. Hal ini kemudian akan melahirkan perasaan bahwa kita tidak akan diampuni Allah dan jauh dari rahmat-Nya.

Sebaliknya jika sifat raja’ terlalu kuat dan khaufnya kurang, akan melahirkan terlalu besar harapan bahwa Allah Maha Pengampun. Memang, Allah senantiasa mengasihi makhluk-Nya. Jangankan orang yang berbuat dosa, orang kafir pun tetap mendapatkan rahmat-Nya, mendapat rezeki dan umur panjang. Sikap semacam ini akan menganggap sepele terhadap dosa, meremehkan nilai ibadah, dan akan mudah tertipu oleh keindahan dunia (maghrur).

Rasa khauf akan menimbulkan beberapa hal berikut ini:

1. Merasa takut untuk mengerjakan larangan Allah dan meninggalkan perintah-Nya,

2.  Merasa takut untuk menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, karena hal itu bisa menyebabkan kemurtadan,

3.  Bersikap wara’ dan hati-hati terhadap segala perbuatan, serta menjaga amal agar tidak salah dan melenceng dari aturan Allah,

4.  Puncak rasa khauf adalah khawatir meninggalkan dunia tanpa keimanan. Ia takut mati dalam keadaan kafir dan takut keturunannya menjadi orang kafir.

Sebelum memiliki rasa khauf, kita harus tau mana yang benar dan mana yang salah, karena orang yang mau berlaku benar tanpa tau kebenaran dan takut melakukan kesalahan tanpa tau yang salah, tidak akan berhasil meraih kebaikan.

Adapun akibat dari sifat raja’ adalah sebagai berikut

1. Memiliki keinginan serta senantiasa membiasakan diri bertaubat kepada Allah karena berharap dan yakin bahwa ampunan Allah amatlah luas,

2.  Berhenti berbuat dosa,

3.  Bersegera melakukan penghapusan dosa karena khawatir terbawa ke alam kubur,

4.  Memperkaya diri dengan amal shaleh sebagai bekal di akhirat kelak.

Memang apada awalnya masalah khauf dan raja’ merupakan urusan hati, tetapi setelah menjelma sebagai sikap istiqamah, ia menjadi pekerjaan badan. Orang yang memiliki rasa khauf dan raja‘ hidupnya tidak akan menuruti hawa nafsu dan mengumbar amarah. Ia akan menjalani hidupnya dengan sangat hati-hati (wara‘).

Dalam beribadah, ia tidak akan melakukan sesuatu jika tidak ada perintah Allah SWT. Ia tidak akan berani berbuat tanpa ridha Allah SWT. Ia sangat takut dirinya berlumur dosa dan diliputi hal-hal ang haram.

Faktor yang dapat mendorong seseorang memiliki rasa khauf dan raja’ ada dua, yaitu:

1.  Iman yang menancap dalam diri manusia,

2.  Menafakuri ayat-ayat Allah, terutama yang menyangkut wa’d ( janji), yakni janji Allah untuk orang-orang yang taat kepada-Nya dan yang menyangkut  wa’id (ancaman), yakni ancaman Allah bagi orang yang berbuat maksiat dan durhaka kepada-Nya.

 

Another Story: Tak Sampai 5 Menit

Hari itu, di suatu siang selepas shalat Dzuhur, aku bertemu dengannya. Entah apa yang terjadi, setelah pertemuan itu ia tak mau pergi dari ingatan. Bahkan hingga sekarang pun, masih jelas tentang apa yang terjadi saat itu. Tak ada sesuatu yang spesial memang. Tak seperti di novel-novel atau di film-film romantis zaman sekarang. Hanya pertemuan singkat yang bahkan tak sampai 5 menit.

Ia bukan siapa-siapa, hanya seseorang. Seseorang yang entah seperti apa detail hidupnya. Tapi yang pasti, saat itu wajahnya begitu bersinar. Terkesan lebay memang, tapi aku melihatnya seperti itu. Sederhana tapi mempesona.

Sudah dua bulan lebih sejak pertemuan singkat itu. Ingin bertemu lagi tapi tidak ingin. Tidak mau bertemu tapi mau. Dilema. Tapi entahlah, takutnya keinginan itu berasal dari nafsu belaka, bukan perasaan murni dari hati. Lagi pula, untuk apa juga bertemu jika tak ada urusan yang penting. Jadi.. tak usah bertemu lagi saja. 

Hmm..  Semoga apa yang ku rasakan saat ini… tidak negatif.

Ya Allah jangan biarkan hati ini terpesona oleh seseorang yang bukan jodohku. Amiin

2012 Segera Usai.. Yuk Muhasabah Dulu!

Tak terasa 2012 segera usai. Saatnya untuk melihat ke belakang, berintrospeksi sejenak. Tahun baru yang akan segera datang ini adalah momentum untuk mengadakan perbaikan dalam hidup. Sebelum kita menyusun resolusi untuk tahun depan, ada baiknya kita bermuhasabah sejenak, mengintrospeksi diri selama setahun ini.

Salah satu hal yang paling mendasar yang harus pertama kali diintrospeksi adalah dalam hal ibadah. Dalam beribadah kepada-Nya, hendaknya kita senantiasa mengoreksi diri kita sendiri. Orang yang tidak mau melakukan introspeksi diri, hidupnya akan selalu dibelenggu keinginan nafsunya, merasa dirinya paling benar, dan menyalahkan orang lain.

Introspeksi diri (muhasabah) adalah mengoreksi atau mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat, karena manusia itu tidak terlepas dari kesalahan. Tidak ada seorangpun yang selamanya benar ataupun selamanya salah, tetapi dia senantiasa ada di antara keduanya. Artinya, pada suatu waktu, manusia bisa benar, dan pada waktu yang lain bisa salah. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia itu adalah tempat kesalahan dan lupa“.

Adapun ilmu yang dapat digunakan untuk sarana berintrospeksi diri ada dua macam, yaitu ilmu tauhid dan fiqih.

Pertama, introspeksi dengan tauhid digunakan sebagai cara untuk mengingat bahwa kejadian atau diadakan dan ditiadakannya diri kita, tiada lain sebagai bukti kekuasaan Allah SWT., serta memberikan kesadaran bahwa kita ini dihidupkan, dimatikan, dan diberi keterampilan dan berbagai kemampuan oleh Allah SWT. Kita diciptakan dengan sifat Al-Khaliq Allah sehingga meyakini bahwa setiap kejadian dan waktu ada dalam kekuasaan-Nya (qudrah).

Apabila kia memiliki perasaan sebagai penentu hidup kita sendiri dan menghilangkan qudrah Allah, misalnya dengan menganggap segala sesuatu adalah hasil usaha dan keterampilan kita sendiri, berarti kita telah berbuat kesalahan karena perasaan semacam itu termasuk ‘ujub.

Kedua, introspeksi dengan fiqih artinya tindakan dan perilaku kita harus dibimbing oleh hukum-hukum fiqih. Apakah tindakan (‘amaliyah) kita hukumnya wajib, sunnah, makruh, atau haram? Karena jika apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan syariat agama, maka apa yang kita lakukan hanya akan menjadi amal yang sia-sia, dan mungkin bahkan bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang dibenci-Nya.

Dalam berintrospeksi hendaknya disertai dengan etika. Tentunya introspeksi diri ini akan menjadi sebuah amal apabila diniatkan sebagai ibadah karena Allah. Selain itu ketika kita bermuhasabah hendaklah didahului dengan memuji-Nya disertai istighfar pada-Nya. Dengan adab yang baik, tentunya introspeksi kita akan lebih mempunyai nilai.

Orang yang sudah mampu melakukan introspeksi diri akan mendapat empat predikat, sebagai berikut.

1. Ta’ib. Predikat ini disandang oleh seseorang yang berintrospeksi diri pada saat dia  mengetahui kesalahannya, kemudian dia bertobat dan tidak larut dalam kesalahannya tersebut.

2. Shabir. Predikat ini disandang pada saat seseorang menyadari bahwa musibah yang menimpa dirinya datang dari Allah sebagai bentuk peringatan atau teguran-Nya ketika orang tersebut berbuat kesalahan.

3. Syakir. Disandang oleh orang yang meyakini bahwa meskipun dia berbuat salah, Allah tetap menyayanginya. Allah tidak menurunkan azab kepadanya seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, setelah dia bisa bersabar dengan musibah, tertanamlah sikap syukur kepada Allah SWT dalam diri orang yang berintrospeksi diri sehingga sia layak menerima gelar syakir.

4. ‘Arif. Disandang setelah kesabaran dan sikap syukur terpenuhi karena keduanya termasuk dua diantara sifat yang dimiliki al-‘arif billah (‘arifin).

Jadi, sebelum membuat resolusi untuk tahun depan, jangan ragu untuk bermuhasabah terlebih dahulu, agar kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa mengadakan perbaikan.

Selamat Bermuhasabah!

[ Sumber : Buku karangan KH. Choer Affandi (Pendiri PonPes Miftahul Huda, Tasikmalaya) yang berjudul “La Tahzan, Innallaha Ma’ana” ]